Seharusnya aku memulai menulis catatan-catatan bersepeda ini beberapa bulan lalu, sejak aku mulai sering bersepeda pada setiap Jumat dan Minggu. Tapi, yah, tetap tidak ada salahnya jika aku baru memulainya hari ini, daripada tidak memulai sama sekali.
Gowes kali ini mungkin gowes dengan rute terpanjang yang pernah aku lakukan, mungkin kurang lebih sama dengan rute menyusuri perbatasan barat (sampai Kesesi) dan perbatasan timur (sampai Batang) kabupaten Pekalongan. Kali ini aku menyusuri tiga rute sekaligus dari rute yang biasa aku lewati. Rute pertama adalah Kedungwuni--Pakis Putih--Rowocacing--Doro--Karanganyar--Wonopringgo--Kedungwuni, sejauh kurang lebih 20 km; Rute kedua adalah Kedungwuni--Wonopringgo--Kajen--Bojong--Surobayan--Kedungwuni, sejauh kurang lebih 25 km; dan rute ketiga adalah Kedungwuni--Surobayan--Bojong--Wiradesa--Pekalongan kota--Kedungwuni, sejauh kurang lebih 25 km. Gabungan dari ketiga rute tersebut menjadi: Kedungwuni--Pakis Putih--Rowocacing--Doro--Karanganyar--Kajen--Bojong--Wiradesa--Pekalongan kota--Kedungwuni, sejauh, dalam catatan spedometer sepeda, 60,5 km.
Rute pertama adalah rute paling komplit, artinya, sepanjang jalurnya terdiri dari tanjakan, turunan, dan jalanan datar. Sedangkan rute kedua dan ketiga kebanyakan melalui jalanan datar. Kecepatan maksimum sewaktu menyusuri turunan di jalur Doro menuju Karanganyar adalah 38 km/jam. Sebenarnya bisa lebih tinggi lagi jika tidak dilakukan pengereman karena jalan yang relatif berliku. Dan kecepatan maksimum dalam perjalanan ini adalah 42 km/jam, sewaktu melaju di turunan yang relatif lurus di depan taman makam pahlawan Bojong.
Sepanjang jalan, sering kali terlihat rombongan anak-anak berseragam berangkat sekolah, sementara di depan sekolah, para guru mereka menunggu di depan gerbang masuk, untuk dicium tangan oleh para murid-murid mereka. Sebuah pemandangan yang menyentuh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar